MII – Surabaya – Kalau kamu ingin melihat kehidupan kota ini secara jujur, tanpa make up, tanpa filter Instagram, datang saja ke Warkop STK ( Sedulur Tunggal Kopi ). Di sana kamu akan menemukan Surabaya dalam bentuk paling apa adanya. Kopi pahit, cat kuning dan manusia-manusia yang berbicara tak henti-henti.
Warkop ini, bagi sebagian orang, bukan sekadar tempat ngopi. Ia sudah naik pangkat menjadi ruang publik paling demokratis di kota ini. Kalau Tugu Pahlawan adalah simbol keberanian orang Surabaya melawan penjajah, maka STK adalah simbol keberanian orang Surabaya melawan kerasnya kota metropolitan ini.
Di tempat ini, strata sosial kehilangan fungsi. Di satu meja bisa duduk mahasiswa yang baru membaca dua halaman filsafat lalu merasa tercerahkan, di sebelahnya ada tukang parkir yang sebenarnya lebih paham realitas hidup daripada buku filsafat itu sendiri.
Kadang ada juga seniman yang datang dengan wajah serius, seolah-olah sedang memikirkan masa depan kebudayaan nasional, padahal sebenarnya cuma belum bayar kos. Hal paling menarik dari STK adalah ketahanan manusia untuk duduk lama. Di kafe kalcer, kamu mungkin akan diusir secara halus jika terlalu lama menempati kursi dengan satu minuman.
Di STK, kamu bisa memesan satu kopi lalu duduk berjam – jam sambil membicarakan geopolitik Timur Tengah, sepak bola, atau kenapa mantanmu tiba – tiba menikah dengan orang yang rokoknya ilegal. Tidak ada yang menghakimi. Bahkan kalau pembicaraanmu semakin ngawur, biasanya justru semakin banyak orang yang ikut nimbrung. STK juga punya fungsi yang tidak pernah disadari pemerintah, yaitu pusat produksi opini rakyat.
Banyak analisis politik lahir di sini dengan metode penelitian yang sangat ilmiah. Mendengar kabar dari grup WhatsApp keluarga atau konten tiktok lalu membahasnya dengan nada penuh keyakinan wkwk. Menariknya, semua orang berbicara seolah – olah mereka adalah analis profesional. Sopir ojek bisa menjelaskan ekonomi global. Mahasiswa semester dua bisa memprediksi masa depan demokrasi.
Sementara yang lain hanya mengangguk sambil menyeruput kopi, seakan-akan berkata, “Ya, masuk akal juga.” tulah keindahan warkop di Surabaya. Ia tidak membutuhkan pendingin ruangan, sofa empuk, atau playlist jazz yang mahal. Yang dibutuhkan hanya tiga hal, seperti kopi, obrolan, dan waktu yang tak terkira. craete by Nauval Hakiki




