MII – Bandung – Sebuah pesan rohani yang sarat makna moral, kritik sosial, dan refleksi kehidupan gereja disampaikan dalam sebuah khotbah yang kini ramai diperbincangkan jemaat. Dalam penyampaiannya, sang pembicara menekankan pentingnya setiap orang percaya untuk terus belajar menjadi murid Kristus yang sejati.

Ia mengawali pesannya dengan mengingatkan bahwa perintah Tuhan kepada murid-murid-Nya adalah untuk terus belajar dan mengajarkan kebenaran. Menurutnya, kehidupan orang percaya tidak boleh dipenuhi dengan memperbesar masalah, melainkan harus belajar memahami kehidupan dengan sukacita dan rasa syukur. “Berkat yang diperoleh itu jangan dipakai untuk hal-hal yang tidak baik. Berkat harus dipakai untuk memuliakan Tuhan,” tegasnya.Minggu 31 Mei 2026


Dalam khotbah tersebut juga disinggung bagaimana banyak orang gagal memahami makna berkat yang sebenarnya. Sang pembicara mengingatkan bahwa ketika seseorang diberkati Tuhan, maka berkat tersebut seharusnya dipergunakan untuk hal-hal yang benar dan bukan untuk kesenangan yang merusak diri sendiri.


Selain itu, ia menyoroti pentingnya belajar menghadapi kebencian dan penolakan dalam kehidupan sosial. Menurutnya, ketika seseorang dibenci atau tidak disukai, hal pertama yang harus dilakukan adalah belajar memahami penyebabnya dan mencari jalan penyelesaian dengan bijak.

Tidak hanya berbicara soal kehidupan pribadi, khotbah tersebut juga menyinggung kondisi gereja dan kepemimpinan rohani saat ini. Sang pembicara mempertanyakan sikap sebagian pemimpin gereja yang dinilai diam ketika terjadi persoalan yang menimpa gereja, namun ramai bersuara dalam isu tertentu yang melibatkan tokoh publik.
“Saya hanya bertanya, kenapa ketika ada gereja dirusak dan ibadah dihentikan, banyak pemimpin gereja justru diam?” ungkapnya.

Ia juga mengkritik keras adanya standar ganda dalam menyikapi persoalan kekristenan. Menurutnya, gereja seharusnya berdiri di pihak kebenaran tanpa memandang siapa yang terlibat.
Dalam bagian lain khotbahnya, pembicara menyoroti bahaya ketika ajaran Kristus mulai digeser oleh budaya dan tradisi manusia.

Ia mencontohkan adanya praktik-praktik tertentu yang dianggap bertentangan dengan nilai ajaran Kristen namun tetap dibenarkan atas nama budaya.
“Jangan sampai ajaran Kristus digeser oleh budaya. Kebenaran harus tetap menjadi dasar,” katanya.
Khotbah tersebut juga mengajak para pemimpin gereja untuk berani bersuara menyampaikan kebenaran dan tidak takut menghadapi tekanan.

Menurutnya, gereja membutuhkan pemimpin yang tegas, jujur, dan tidak kompromi terhadap penyimpangan. Pesan yang disampaikan dalam khotbah ini mendapat perhatian karena dinilai tidak hanya berbicara soal iman, tetapi juga menyentuh persoalan sosial, moral, hingga kondisi kepemimpinan gereja masa kini. create by Dayan Sihombing