MII – Jakarta – Kembali soal Muktamar ke-35 NU. Baru saja muktamirin memilih sembila kiyai sepuh alias Ahwa dalam Pleno V Muktamar NU. Saat pemilihan berlangsung damai dan adem. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Kiyai sembilan itu bukan orang sembarangan. Merekalah yang akan bermusyawarah memilih Rais Aam. Lalu, setelah Rais Aam memberikan restu tertulis, melanjutkan tugas memilih Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031. Sekarang, bola sudah benar-benar masuk ke ruang para kiai sepuh.

Tabulasi dilakukan terbuka dari seluruh usulan PWNU, PCNU, dan PCINU. Total suara yang dihitung mencapai 4.860 suara dari enam bilik. Hasilnya? KH Nurul Huda Jazuli dari Ploso, Kediri, berada di posisi pertama dengan 486 suara.

Disusul Tgk. KH Nuruzzahri Yahya alias Waled Nu dari Aceh dengan 478 suara. Cuma selisih delapan suara. Kalau ini pertandingan sepak bola, sudah masuk menit 90 plus tujuh.

Posisi berikutnya:
Dr. KH Baharuddin HS — 392 suara.
KH Miftachul Achyar — 351 suara.
KH Afifuddin Muhajir — 340 suara.
KH Anwar Iskandar — 327 suara.
KH Anwar Mansur dari Lirboyo — 304 suara.
Dr. KH Abun Bunyamin — 297 suara.
Prof. KH Said Aqil Siroj — 273 suara.

Sembilan kiai. Satu misi. Merekalah menentukan siapa yang akan memegang kemudi NU lima tahun ke depan.

Kalau memakai bahasa ushul fikih, sekarang urusannya bukan lagi siapa paling ramai, melainkan siapa yang dianggap paling membawa maslahah. Sebab dalam politik organisasi, suara terbanyak bisa menghitung jumlah. Tetapi AHWA diminta menghitung kelayakan.

Di sinilah ceritanya mulai menarik. Siapa calon Ketum PBNU?

Bursa paling kuat dan sudah muncul dalam proses penjaringan antara lain Gus Yahya Cholil Staquf, Gus Kikin alias KH Abdul Hakim Mahfudz, Gus Rozin, Gus Yusuf Chudlori, dan Gus Salam. Kelima nama ini sebelumnya disebut sebagai caketum yang mendorong mekanisme AHWA.

Gus Kikin sudah terang-terangan menyatakan diusung PWNU Jawa Timur. Gus Yusuf juga punya modal dukungan kuat dari Jawa Tengah, dengan dukungan 23 PCNU yang sebelumnya disampaikan dalam deklarasi pencalonannya.

Sementara Gus Rozin menyatakan menghormati mekanisme AHWA. Adapun Gus Yahya tentu bukan pemain baru. Ia datang sebagai petahana, dengan pengalaman memimpin PBNU selama periode sebelumnya.

Kalau lima nama ini masuk meja AHWA, jangan bayangkan mereka duduk seperti peserta lomba tujuh belas Agustus menunggu nomor dipanggil.

Ini NU, Wak. Yang dibawa bukan cuma nama. Ada pesantren. Ada jaringan. Ada sejarah. Ada dukungan wilayah. Ada pengalaman. Tentu saja ada kalkulasi maslahat.

Tetapi jangan lupa, AHWA harus memilih Rais Aam terlebih dahulu. Setelah itu barulah proses pemilihan Ketum bergerak.

Mekanisme ini merupakan konsekuensi dari keputusan dramatis malam sebelumnya: 401 muktamirin memilih AHWA. Sementara 150 memilih tetap one man one vote, dan satu suara tidak sah.

Artinya, drama yang kemarin masih berupa debat mekanisme kini sudah berubah menjadi drama penentuan nama. Kemarin pertanyaannya, “Siapa yang memilih Ketum?” Sekarang, “Siapa yang dipilih Ketum?” Sebentar lagi pertanyaannya naik kelas. “Siapa yang dipilih AHWA?”

Warga Nahdliyin kini tinggal menunggu pintu ruang musyawarah terbuka. Sembilan kiai sudah terpilih. Rais Aam segera ditentukan. Setelah itu, Ketum PBNU tinggal menunggu giliran. Kopi sudah diseduh. Kursi sudah tersedia. Nama-nama sudah beredar.

Tinggal menunggu sembilan kiai sepuh mengucapkan satu nama yang akan membawa NU sampai 2031. Di sinilah politik NU masuk babak paling seru, bukan lagi adu suara, tetapi adu maslahat. Saat ini ditulis, sidang pleno V sedang melakukan penjaringan calon Ketua Umum. create by Rahmat Tri Handoko