MII – Bogor – Pertemuan Bupati Bogor Rudy Susmanto dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bogor di Leuwiliang, Sabtu (3/10/2026), membuka persoalan yang lebih besar daripada sekadar agenda silaturahmi: akses pendidikan di Bogor Barat masih sangat bergantung pada sekolah yang dikelola masyarakat dan organisasi pendidikan.
Data pendidikan Kecamatan Leuwiliang memperlihatkan gambaran tersebut dengan cukup jelas. Pada tahun ajaran 2025/2026, Leuwiliang hanya memiliki 1 SMA negeri dibanding 8 SMA swasta. Pada jenjang SMK, terdapat 1 sekolah negeri dan 9 sekolah swasta. Sementara untuk Madrasah Aliyah, delapan satuan pendidikan yang tercatat seluruhnya berstatus swasta.
Kondisi itu membuat pembicaraan antara pemerintah daerah dengan Muhammadiyah relevan untuk dibaca dari sisi pemerataan layanan pendidikan, terutama di wilayah barat Kabupaten Bogor. Pertemuan tersebut juga telah tercantum dalam kanal informasi Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor.
Sekolah Negeri Bukan Satu-Satunya Penopang Dalam pertemuan tersebut, Rudy mengakui pemerintah daerah tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan pembangunan Kabupaten Bogor sendirian. “Menjalankan roda pemerintahan, kita tidak bisa membangun Kabupaten Bogor seorang diri. Tidak bisa Bogor sendirian. Kita membutuhkan kolaborasi dengan berbagai organisasi keumatan, salah satunya Muhammadiyah,” ujar Rudy Susmanto, Sabtu (3/10/2026).
Pernyataan tersebut menjadi lebih konkret jika dilihat dari struktur pendidikan Leuwiliang. Untuk tingkat SMA, sekitar delapan dari sembilan sekolah tercatat merupakan sekolah swasta. Untuk SMK, sembilan dari sepuluh sekolah juga berstatus swasta. create by Gunawan Suhendar




