MII – Yogyakarta -Humas BRIN. Saat ini isu perubahan iklim semakin menjadi perhatian dunia terlebih karena dampaknya yang dapat dirasakan secara nyata. Indonesia berkomitmen untuk turut andil dalam penurunan suhu global dan penanganan dampaknya. Aksi nyata wujud komitmen tersebut dengan ditetapkannya target penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) pada 2030 sebesar 29% dengan usaha sendiri, dan 41% dengan bantuan luar negeri seperti yang tertuang dalam Updated Nationally Determined Contribution (NDC). Salah satu instrumen dalam mewujudkan pengurangan emisi GRK dengan ditetapkannya Peraturan Presiden (Perpres) no 98 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon dan Pengendalian Emisi GRK dalam Pembangunan Nasional.
Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN Mego Pinandito menyampaikan, komitmen pajak karbon berdasarkan mandat Paris Agreement, yakni mengurangi emisi gas rumah kaca. Hal yang menjadi fokus dalam pajak karbon ini adalah pencapaian target nilai ekonomi karbon. Pajak karbon didefinisikan sebagai pungutan negara, baik pusat atau daerah terhadap kegiatan yang memiliki potensi emisi karbon dan menimbulkan dampak negatif pada lingkungan.
“Pemahaman ini perlu terus dilakukan kepada seluruh pemangku kepentingan/multi stakeholders terkait pajak karbon. Penetapan, dan perhitungannya, hingga dampaknya kepada masyarakat (harga),” tandas Mego.
Dalam rangka menyikapi hal tersebut, PT. Pandu Wijaya Negara menggandeng BRIN untuk turut berkontribusi dalam upaya penurunan emisi GRK nasional. Melalui pendampingan pengukuran karbon pada agroforestry pohon nyamplung atau tamanu (Calophyllum Inophylum Linn.) yg berada di kawasan Kapanewon Playen, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sejak Juni 2023, perusahaan yang bergerak di bidang trading Tamanu Oil atau minyak nyamplung ini berkolaborasi melalui Pusat Riset Sistem Produksi Berkelanjutan dan Penilaian Daur Hidup (PR SPBPDH) pada Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) BRIN. Pelaksanaan kegiatan dimulai dengan survei lokasi dan pengambilan data di lapangan, meliputi pembuatan plot, pengukuran diameter dan tinggi pohon nyamplung.
Pengambilan contoh juga dilakukan pada tanaman non kayu di sekitarnya, seperti kayu mati, tumbuhan bawah/penutup tanah, seresah, serta pengambilan contoh biomass tanaman dan tanah. Selanjutnya dilakukan analisis kandungan C di laboratorium untuk mengetahui bufferstock simpanan karbon yang dihasilkan agroforestry nyamplung pada kawasan karst seluas 25 hektar di Gunung Kidul.
Nyamplung merupakan tanaman yang mudah ditemukan di sepanjang pesisir daerah tropis. Tanaman ini selalu hijau sepanjang tahun, mempunyai nilai ekologi dan ekonomi. Nyamplung dianggap penting karena selain kayunya mempunyai potensi tinggi, tanaman ini juga mempunyai kemampuan dalam menyerap karbon.
Biji nyamplung bisa diolah menjadi minyak yang dapat digunakan sebagai bahan baku alternatif bahan bakar nabati, bahkan mempunyai produk turunan yang dapat digunakan sebagai obat dan kosmetik. Minyak nyamplung kaya akan asam lemak, sehingga dapat memperbaiki barrier kulit yang rusak, dan membantu meningkatkan kelembaban kulit.
Biomassa Nyamplung
Untuk menyampaikan laporan hasil kerja sama ini, Kelompok Riset Ekonomi Sirkular dalam Simbiosis Sumberdaya Alam BRIN, Ketua Kelompok Riset Tri Martini menjelaskan pentingnya pemahaman dan mengetahui besaran simpanan karbon pada biomassa total, tumbuhan bawah dan tanah pada kawasan agroforestry nyamplung, di Kawasan Sains dan Edukasi Achmad Baiquni Babarsari, Yogyakarta.
Biomassa nyamplung diukur dalam 20 plot, dan masing-masing plot memiliki ukuran 20 x 20 meter menggunakan rumus alometrik. Biomasa atas (AGB) nyamplung antara 2,1 kg sampai 255,5 kg pohon-1. Berat biomasa bawah (BGB) nya antara 0,2 kg sampai 46,4 kg untuk pohon-1. Apabila dihitung biomasa total (TABGB) nyamplung meliputi biomasa atas (AGB) dan biomasa bawah (BGB) adalah sebesar 1,2 kg sampai 301,8 kg pada pohon-1. Rata-rata di seluruh lokasi penelitian, biomassa total nyamplung adalah 36,84 ton ha-1.
Riset yang turut mengkolaborasikan peneliti dari Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi (PREE) BRIN memberikan pemahaman, bahwa karbon yang tersimpan dalam biomassa di atas dan di bawah permukaan tanah pada nyamplung berbeda atau heterogen.
Pamungkas Buana Putra selaku Peneliti PREE BRIN menyatakan, simpanan karbon di dalam biomassa sekitar 0,47 dari berat biomassa. Sedangkan simpanan karbon pada biomassa di atas permukaan tanah menunjukkan kisaran sekitar 1,3-33,5 ton C ha-1 (atau 4,9-122,8 CO2eq). Untuk karbon yang tersimpan pada biomassa di bawah permukaan tanah menunjukkan kisaran sekitar 0,2-5,2 ton C ha-1 (0,6-19,2 CO2eq).
Apabila memperhatikan total biomassa di atas dan bawah (TABGB) menunjukkan nilai simpanan karbon sebesar 1,5-38,7 ton C ha-1 (5,5-142,0 CO2eq). Sedangkan untuk perhitungan biomassa dan simpanan karbon pohon selain nyamplung dimasukkan, nilai akan naik walau tidak signifikan. Kecuali pada plot 14 dan 15 dengan tanaman penyusun tegakan adalah jati dengan pohon lainnya yang berdiameter besar.
Hasil pengukuran yang dilakukan sebelumnya menginformasikan, bahwa nyamplung dengan biomassa sebesar 10,46 ton mempunyai simpanan karbon sebesar 5,23 ton dengan serapan CO2 sebesar 19,19 ton. Simpanan karbon nyamplung pada biomassa di atas permukaan tanah pada umumnya lebih besar yaitu sebesar 87,3% dibandingkan biomassa di bawah permukaan tanah.
Hasil ini sesuai dengan penelitian-penelitian sebelumnya dan teori yang ada karena biomassa di atas permukaan tanah mencakup berbagai unsur, termasuk batang, cabang, daun, buah-buahan, dan semuanya memiliki kandungan karbon yang besar. Sedangkan, biomassa di bawah permukaan tanah meliputi akar dan berbagai struktur bawah tanah.
Perbedaan simpanan karbon pada nyamplung di dalam plot-plot tersebut disebabkan oleh keragaman kondisi pertumbuhan pepohonan. Hal ini sebagai akibat perbedaan pengelolaan lahan yang dilakukan oleh masing-masing petani. Di lain sisi, besaran simpanan karbon dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain iklim, topografi, karakteristik lahan, umur dan kerapatan vegetasi, komposisi jenis, serta kualitas tempat tumbuh.
“Pohon-pohon yang memiliki jumlah biomassa yang lebih besar baik di atas maupun di bawah permukaan tanah memberikan kontribusi yang lebih besar, terhadap potensi ekosistem dalam menyerap karbon,” tandas Pamungkas.
Penelitian lebih lanjut masih perlu dilakukan untuk mengetahui variasi umur pohon, campuran spesies, dan sejarah penggunaan lahan dalam memengaruhi penyerapan karbon. PT. Pandu Wijaya Karya menyampaikan, bahwa hasil penelitian ini sangat bermanfaat sebagai scientific recognition. Hasil penelitian ini juga dapat digunakan sebagai dasar dan pegangan dalam perdagangan karbon.create by Dony Maryono




