MII – Jakarta – Pohon Nyamplung dengan nama ilmiah calophyllum inophylluma adalah salah satu tanaman yang dapat dijumpai di kawasan pesisir. Dengan tinggi bisa mencapai 25 meter lebih, pohon ini tersebar di beberapa wilayah Indonesia. Tidak hanya di Indonesia, daerah penyebaran tanaman ini juga cukup luas sebut saja Afrika Timur, Madgaskar, Srilangka, Burma, Thailand, Malaysia, Australia, dan juga bisa dijumpai di pulau-pulau sekitar laut pasifik.
Pohon ini memiliki ciri daun bulat panjang antara 5 – 30 cm dan buahnya yang berbentuk bulat telur, tanaman ini ternyata memiliki banyak manfaat. Menurut Ir. Lukman Amin MP pemilik Harmoni Herbal Yogyakarta, kayunya yang keras banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku membuat perahu dan tiang kapal. Tanaman ini juga memiliki manfaat bagi lingkungan sebagai pemecah angin, mencegah abrasi, dan konservasi pantai. Tidak hanya itu Lukman menyebut Nyamplung mulai dari biji, daun, kulit kayu, dan getahnya juga bermanfaat bagi kesehatan.
Sebagai contoh Ia menyebut daunnya yang mengandung senyawa costatolide-a, saponin, dan acid hydrocyanic ini berkhasiat sebagai obat oles untuk sakit encok dan obat luka yang disebabkan luka bakar atau luka kena sayat. Tidak hanya di Indonesia masyarakat yang memanfaatkan daunnya untuk pengobatan, di negara lain seperti halnya Kamboja hal ini juga sering dilakukan.
“Di Kamboja daunnya ini dipakai untuk obat sakit kepala,” ujar Lukman yang juga seorang dosen di perguruan tinggi swasta di Yogyakarta saat mengisi dialog di Pro 4 RRI Yogyakarta Tahun Lalu.
Bahkan dari hasil penelitian-penelitian yang ada di luar negeri, ekstrak daun dan akar Nyamplung ini bisa digunakan untuk menghambat perkembangan virus HIV. “Sementara di Indonesia penelitiannya masih terbatas seputar pembuatan minyak dari biji Nyamplung,” katanya.
Peneliti pada Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Budi Leksono sedang menyiapkan minyak pohon nyamplung untuk menjadi bahan bakar nabati.
“Bukan berarti nyamplung akan menyaingi kelapa sawit. Sawit sudah siap sekali menjadi biodiesel dengan proses yang sudah berskala industri, bahkan untuk ekspor,” kata Budi, dalam webinar “Tak Hanya Sawit, Indonesia Kaya Beragam Bahan Bakar Nabati” yang dipantau di Jakarta, Rabu.
Ia mengatakan kalau dikembangkan lebih jauh, minyak nyamplung pun dapat menjadi substitusi minyak kelapa sawit sebagai bahan bakar nabati (BBN). Subtitusi ini, terutama diperlukan saat distribusi minyak kelapa sawit terhambat isu global, seperti isu terkait BBN tidak seharusnya berupa minyak yang dapat dimakan atau edible oil.
Di samping itu, pohon nyamplung yang bisa dikembangkan di wilayah-wilayah terpencil menjadi solusi saat BBN dari sawit sulit didistribusikan ke wilayah-wilayah tersebut.
“Indonesia negara tropis yang sangat kaya. Kalau minyak nyamplung tidak dimanfaatkan, biaya BBN di Indonesia bisa lebih tinggi lagi,” kata Budi.
Berdasarkan penelitian Budi, pohon nyamplung tersebar di seluruh wilayah Indonesia pada ketinggian 0-300 meter di atas permukaan laut. Pohon yang toleran terhadap lahan kritis ini pun dapat berbuah sepanjang tahun dengan produksi mencapai 50-150 kilogram per pohon per tahun.
Pohon dengan minyak bersifat tidak dapat dimakan atau non-edible oil ini juga memiliki rendemen minyak tinggi, yakni sebesar 30-80 persen. Daya bakar minyak nyamplung, menurut Budi, juga tinggi dan saat ini cara pengolahan minyaknya sudah dikuasai oleh peneliti dan masyarakat setempat.
“Pemanfaatan limbah industri minyak nyamplung juga sudah diketahui, begitu pula teknik budi dayanya. Saat ini yang belum ada adalah benih unggul dengan produktivitas tinggi, ini yang harus disiapkan saat hendak mengembangkan industri berbasis tanaman nyamplung,” katanya.
Saat ini pihaknya telah melakukan penelitian terhadap minyak pohon nyamplung dari 12 populasinya yang tersebar di delapan pulau di Indonesia. Budi berharap penelitian ini dapat menjadi dasar kebijakan pemerintah di masa yang akan datang, yang diharapkan juga mulai menggunakan tanaman alga untuk dijadikan BBN.
Solusi Perubahan Iklim perlu dekarbonisasi, yaitu menurunkan emisi CO2 (emisi Karbon), dan Bioenergi sebagai Transisi Energi dari Energi Fossil menuju Energi Non Fossil seuai harapan Sekjen PBB Bapak Gueteres sebagai berikut : COP 29 Baku Azerbaijan
Solusi Perubahan iklim Nature Based Solution (NBS) adalah cara yang alami dengan menanam pohon Nyamplung, tanaman hutan yang dapat menyerap karbon (dekarbonisasi) dan menghasilkan bioenergi seperti biosolar, bioavtur, bioLPG, Bricket dlsb untuk transisi energi.
Di bawah ini kami sajikan link study ilmiah tentang pohon nyamplung atau tamanu atau Calophyllum Inophyllum yang telah PT Pandu Wijaya Negara lakukan bersama Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) dan peneliti lainnya dalam journal journal dan tulisan lain diantaranya sebagai berikut :
COP29 menyerukan negara-negara maju untuk berkomitmen setidaknya menaikkan $300 miliar per tahun dalam pendanaan iklim ke negara-negara berkembang.
Oleh-oleh COP29 Azerbaijan, Indonesia Bakal Dapat Dana USD 300 Miliar pada 2025 untuk Atasi Perubahan Iklim
Journal Serapan Karbon Nyamplung (Calophyllum Inophyllum)
Carbon sequestration potential of Tamanu (Calophyllum inophyllum) in Gunung Kidul, Yogyakarta
Nyamplung – Tamanu – or Calophyllum Inophyllum Study
BRIN-PT. Pandu Wijaya Negara Lakukan Pengukuran Reduksi Emisi Karbon pada Sistem Agroforestry Nyamplung. create by Dony Badak




