MII – Bogor – Fenomena meningkatnya kasus batuk dan pilek ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Di berbagai negara Asia, termasuk Jepang dan Malaysia, masyarakat juga tengah menghadapi gelombang penyakit serupa yang menyerang secara massal dalam waktu hampir bersamaan. Di Jepang, lonjakan kasus batuk dan pilek atau yang disebut sebagai “nasal cold” meningkat tajam sejak akhir September 2025. Rabu (15/10/25)

Berdasarkan laporan dari Kementerian Kesehatan Jepang, banyak sekolah dasar dan taman kanak-kanak terpaksa meniadakan kegiatan belajar tatap muka karena banyaknya siswa dan guru yang sakit.

Penyakit ini umumnya disebabkan oleh infeksi virus musiman, yang diperparah oleh perubahan cuaca ekstrem dan tingkat kelembapan udara yang tinggi.

Sementara itu, Malaysia juga mengalami tren serupa. Kementerian Kesehatan Malaysia ( KKM ) melaporkan bahwa jumlah pasien dengan gejala batuk, pilek, dan demam ringan meningkat hampir 40 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Kondisi ini membuat beberapa rumah sakit di wilayah Kuala Lumpur dan Selangor mengalami lonjakan pasien di unit rawat jalan.

Pihak KKM menduga lonjakan ini berkaitan dengan penurunan imunitas masyarakat setelah musim panas panjang serta sirkulasi berbagai virus pernapasan, termasuk influenza dan rhinovirus.

Meski bukan penyakit berbahaya, gejala yang berkepanjangan membuat banyak warga harus beristirahat dari aktivitas harian dan bekerja dari rumah.

Fenomena serupa juga dialami di Indonesia, di mana cuaca yang tidak menentu, peralihan musim, serta aktivitas masyarakat yang kembali padat usai pandemi menyebabkan peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan ringan ( ISPA ) di berbagai daerah.

Para pakar kesehatan dari ketiga negara tersebut sepakat bahwa perubahan iklim dan gaya hidup modern menjadi faktor dominan di balik meluasnya kasus batuk dan pilek ini.

Mereka mengimbau masyarakat untuk menjaga pola makan sehat, memperbanyak asupan cairan, istirahat cukup, serta menggunakan masker di tempat ramai agar penyebaran virus tidak semakin meluas.

Meskipun penyakit ini tergolong ringan, penularannya yang cepat membuat banyak negara di Asia waspada. Pemerintah masing-masing negara kini terus memantau situasi dan memperkuat layanan kesehatan agar lonjakan kasus tidak berujung pada beban fasilitas medis yang lebih besar. create by Gunawan Suhendar