MII – Aceh – Aceh sebagai wilayah strategis di Selat Malaka menyimpan berbagai fakta sejarah, budaya dan ilmu pengetahuan. Salah satunya adalah Makam Putroe Tsani/Puteri Tsani ( sebagian sejarawan menulis Puteri Sendi ). Putroe Tsani adalah puteri dari Teungku Chik di Reubee atau Daeng Mansur. Sultan Iskandar Muda pernah belajar ilmu agama, politik dan pemerintahan pada Teungku Chik di Reubee.

Tatkala dewasa Iskandar Muda menikah dengan Putri Tsani. Putri Sani pun resmi menyandang gelar permaisuri Kesultanan Aceh Darussalam. Makam Putroe Tsani terletak di Desa Reuntoh, Kemukiman Reubee, Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie ( bekas Kerajaan Pedir, tetangga Kerajaan Lamuri di Aceh Besar ).

Konon makam istri Sultan Iskandar Muda ini terlihat terukir dengan bunga, yang biasanya diperuntukkan kepada keturunan raja atau keluarga istana. Diriwayatkan, di sekeliling kuburan Putroe Tsani dulunya terdapat hamparan kebun kosong. Jika kita lihat dulu kebun kosong ini merupakan milik seorang ratu, namun saat ini kebun itu tanah ini sudah diklaim oleh masyarakat bahwa ini miliknya. Fenomena menarik terlihat kondisi makam Putroe Tsani saat ini tidak terawat. Fakta menunjukkan makam orang terhormat ini kurang perhatian dari pemerintah, baik daerah ( Pidie, Aceh dan Pusat ).

Di dekat makam Putroe Tsani hanya terpasang papan nama bahwa makam itu merupakan benda cagar budaya. Sementara bangunan makam amat sangat sederhana. Pagar ala kadar dan mudah masuk kambing. Sementara batu nisan Sang Permaisuri terlihat sudah patah dan disambung dengan semen cor yang jauh dari mekanisme perawatan benda purbakala. Batu nisan Sang Permaisuri terancam diambil oleh masyarakat untuk dijadikan batee meu – asah ( batu asah parang ). “Jika kuburan ini dibiarkan terus terbengkalai, boleh jadi suatu hari batu nisannya dicuri untuk dijadikan batu asah barang,” ujar Hasan Basri M Nur PhD, dosen UIN Ar-Raniry, saat kami berkunjung ke rumahnya di kampung Aree, Kamis (23/7/26).

Atau boleh jadi, orang yang mengatasnamakan keturunannya akan memperjualbelikan barang berharga yang ada di sekitar makam. Oleh karena itu, kepada pemerintah diharapkan untuk menjaga makam Puteri Tsani ini sebagai bukti sejarah, simbol kemasyhuran bangsa yang menjadi roh budaya dan spirit kebangsaan yang tiada taranya.

Sesungguhnya tersimpan kemegahan di balik kuburan ini. Batu nisan terukir yang cantik, elok dipandang mata. Sepertinya ia merupakan barang impor. Membuatnya pun dipastikan butuh waktu berbulan-bulan berdasarkan keunikan ukirannya. Pemerintah ( dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pidie dan Aceh ) berkewajiban untuk menjelaskan fakta ini melalui tulisan dan lisan kepada masyarakat guna kita mengambil hikmah dan ilmu dari fakta makam Putroe Tsani. create by Ahmad Fauzan