MII – Lampung – Kasus penembakan Yanti (36) oleh mantan suaminya, Abu Rohman (35), di kawasan Pasar Desa Wiralaga I, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Mesuji, Kamis (13/8/26), mengungkap persoalan lain yang menjadi perhatian kepolisian, yakni peredaran senjata api ( senpi ) rakitan.

Dalam kasus tersebut, polisi mengamankan satu pucuk senpi rakitan jenis revolver beserta amunisinya dari tubuh tersangka saat dilakukan penangkapan. Kapolsek Tanjung Raya Iptu Dwi Endrianto mengatakan, berdasarkan pemeriksaan awal, senjata yang digunakan untuk menembak korban diduga berasal dari peredaran lokal.

“Untuk senpi yang kita jadikan barang bukti saat ini ditemukan pada saat penangkapan di badan tersangka. Dari hasil pemeriksaan awal, senjata api yang digunakan untuk menembak korban dibuang di Sungai Wiralaga dan didapatkan dari Kampung Sungai Ceper,” ungkap Dwi. Selain senpi rakitan, polisi mengamankan sejumlah barang bukti lain untuk mendukung proses penyidikan, di antaranya rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian dan pakaian yang dikenakan korban.

Kasus tersebut bermula ketika Abu Rohman mendatangi korban di kawasan Pasar Desa Wiralaga I. Aksi penembakan diduga dipicu rasa sakit hati setelah korban menolak ajakan tersangka untuk kembali bersama. Sebelum kejadian, tersangka bahkan sempat mendatangi rumah orang tua korban dan melontarkan ancaman. Menurut Dwi, kasus tersebut menjadi salah satu gambaran risiko peredaran senpi rakitan di wilayah Mesuji.

Senjata yang oleh sebagian warga disimpan dengan alasan perlindungan diri justru berpotensi digunakan untuk tindak kriminal maupun kekerasan. Polisi sebelumnya mengungkap bahwa kepemilikan senpi rakitan di sejumlah wilayah perairan Mesuji berkaitan dengan kondisi geografis daerah tersebut.

“Kondisi geografis wilayah perairan Mesuji Pusat seperti di sepanjang aliran Sungai Ceper, Wiralaga 1, Wiralaga 2, Sungai Badak, hingga Nipah Kuning yang berbatasan langsung dengan Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, membuat mobilitas warga sangat bergantung pada jalur perairan,” ujarnya.

Dwi menyebut Kampung Sungai Ceper dikenal sebagai salah satu kawasan yang menjadi titik pembuatan senjata api rakitan. Karena merasa membutuhkan perlindungan, sebagian warga disebut memilih menyimpan senpi buatan lokal. Jenis yang banyak ditemukan antara lain revolver dengan laras pendek maupun panjang. Kepolisian pun terus melakukan upaya pencegahan dengan pendekatan edukatif dan persuasif. Sosialisasi dilakukan hingga jajaran polsek dengan melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, serta pamong desa. create by Fadly Muhar