MII – Bogor – Sebaran abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau mulai berdampak ke sejumlah wilayah Kabupaten Bogor. Pemerintah Kabupaten Bogor merespons dengan mengerahkan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan ( DPKP ) untuk melakukan light water spray di kawasan yang banyak digunakan masyarakat. Penyemprotan dilakukan secara serentak pada Minggu (6/9/26) mulai pukul 11.00 WIB.

Langkah tersebut ditujukan untuk membantu mengurangi debu yang beterbangan di ruas jalan sehingga paparan terhadap warga dapat ditekan. Kepala DPKP Kabupaten Bogor Yudi Santosa mengatakan penyemprotan dilakukan sebagai respons terhadap sebaran abu vulkanik Anak Krakatau yang telah mencapai sejumlah wilayah Bogor. “Untuk mengantisipasi udara tercemar debu Anak Krakatau, jam 11.00 WIB saya minta anggota secara serentak melakukan light water spray di wilayah perkotaan masing-masing sektor,” kata Yudi di Cibinong, Selasa 8 September 2026

11 wilayah jadi sasaran Tidak hanya menyasar satu titik, petugas dikerahkan ke 11 wilayah. Lokasinya meliputi Ciawi, Ciomas, Parung, Parung Panjang, Cibinong, Cileungsi, Cariu, Babakan Madang, Citeureup, Leuwiliang dan Gunung Putri. Beberapa titik yang menjadi sasaran antara lain kawasan Pasar Ciawi hingga RSUD, Pasar Parung, Jalan Tegar Beriman dan Pakansari di Cibinong, kawasan Metland Cileungsi, hingga ruas utama di Gunung Putri.

Penyemprotan diprioritaskan pada jalan utama, kawasan pasar, pusat pemerintahan dan lokasi dengan aktivitas masyarakat yang relatif tinggi. Bukan menunggu abu makin tebal Langkah tersebut menunjukkan pemerintah daerah memilih melakukan pencegahan ketika abu vulkanik mulai terpantau, bukan menunggu kondisi semakin parah.

Metode light water spray digunakan untuk membantu mengikat debu yang berada di permukaan jalan dan mengurangi partikulat yang kembali beterbangan akibat aktivitas kendaraan maupun kondisi lingkungan. Namun, penyemprotan jalan bukan berarti menghilangkan seluruh risiko abu vulkanik.

Badan Geologi mencatat aktivitas Gunung Anak Krakatau hingga 7 September 2026 masih berada pada Level III atau Siaga. Setelah episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam berakhir pada 6 September, aktivitas strombolian masih kembali teramati dan kemungkinan letusan dalam beberapa periode berikutnya masih dinilai tinggi. Abu vulkanik masih harus diwaspadai Badan Geologi merekomendasikan masyarakat yang terdampak abu vulkanik mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker saat berada di luar untuk menghindari gangguan pernapasan.

Imbauan tersebut relevan bagi warga Bogor yang tetap harus beraktivitas di luar rumah, termasuk pengendara, pedagang, pekerja lapangan dan masyarakat yang beraktivitas di ruang terbuka. BMKG juga melaporkan hasil pemantauan satelit pada 6 September menunjukkan sebaran abu vulkanik melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu. Dengan kondisi seperti itu, arah sebaran abu dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer.

Kabupaten Bogor tidak hanya mengandalkan penyemprotan, respons terhadap abu vulkanik juga mulai menyentuh sektor pendidikan. Pemkab Bogor memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh ( PJJ ) pada 7 – 8 September 2026 untuk jenjang PAUD/TK, SD, SMP hingga satuan pendidikan nonformal. Kebijakan tersebut ditetapkan sebagai langkah mitigasi setelah hujan abu vulkanik mencapai sejumlah kawasan Kabupaten Bogor. create by Gunawan Suhendar