MII – Madura – Maraknya prilaku bullying di lingkungan sekolah yang kerap viral di jagad medsos disikapi dengan sigap oleh Kapolsek Arosbaya Iptu Sys Ratna Eko Purnomo. Melalui program Polisi Goes School, Kapolsek dan anggota rajin menggelar sosialisasi secara bergilir dari sekolah ke sekolah. “ Materi sosialisasinya ya fokus pada seruan agar stop prilaku bullying yang masih kerap terjadi di sekolah,” kata Iptu Sys Eko, sapaan akrab Kapolsek.
Targetnya, Polsek ingin menjadikan sekolah sebagai lingkungan yang aman dan nyaman bagi para siswa. “ Untuk itu, kami (Polsek-Red) juga ingin menanamkan attitude (sikap), karakter dan prilaku positif secara dini kepada para siswa,” tandasnya. Selain itu, mantan Kanit Lakalantas Polres Bangkalan, ini rutin menyisipkan materi terkait tertib lalu-lintas kepada para siswa.
Seperti Jumat, 9 Oktober 2026, beberapa personel Polsek ketiban amanah untuk nyambangi siswa SMP Al-Muhtadin. Syukurlah, puluhan siswa hadir dan antusias mencermati materi sosialisasi yang dikembangkan dengan metode dialogis. Atau tidak bersifat searah. Siswa diberi kebebasan untuk dialog dan Tanya jawab.
Dihadapan Kepsek, Guru dan siswa, personel Polsek secara detail menjelaskan arti dan makna tindakan bullying, yang akhir akhir ini kian menggejala di lingkungan sekolah. “Kepada adik-adik siswa, anggota menjelaskan bahwa tindakan bullying yang menaragah pada aksi kekerasan pisik dan mental, kaprah dilakukan oleh siswa senior kepada juniornya. Bisa juga terjadi antar teman sekelasnya,” jelas Iptu Sys Eko.
Prilaku tak senonoh macam ini, jelas berdampak negatif. Baik bagi pelaku maupun siswa korbannya. Bagi siswa pelaku bullying, secara psykhologis, akan bisa membentuk sikap dan kepribadian yang mengarah pada aksi kekerasan dan aksi anarkis lainnya. Jika tidak terkontrol, bisa jadi kebiasaan buruk itu sewaktu waktu akan berpotensi diaplikasikan tidak hanya di lingkup sekolah, tetapi melebar ke lingkungan sosial. Ini yang sangat berbahaya.
Implikasi negatifnya, siswa pelaku bullying yang nota bene calon regenerasi masa depan bangsa dan negara, jadi kerap dan gemar tawuran. Termasuk di jalanan. Bisa jadi, prilaku buruk seperti itu kemudian diaplikasikan dalam bentuk tindak kriminalitas lainnya. ”Nah, hal seperti ini tidak boleh terjadi pada anak-anak (pelajar) kita. Harus dicegah dan diantisipasi secara dini,” tegas Iptu Sys Eko.
Di sisi lain, bagi siswa korban bullying, secara psykhologis, berpotensi akan mengalami traumatik dan depresi akut. Sikapnya jadi pesimistis, enggan bergaul, dan jadi malas untuk masuk sekolah. Imbasnya lalu pilih droup-out (DO) dari sekolah. Simpulnya tindakan bullying tergolong prilaku berbahaya.Harus secepatnya dicegah dan di stop ”Dalam konteks ini, peran Kasek, Wakasek dan para guru harus intent melakukan pengawasan dan pembinaan, agar tindakan bullying tidak terjadi di lingkungan sekolah,” pungkas Iptu Sys Eko. creaete by Sukron




