MII – Jakarta Selatan – Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Selatan mengadakan puncak peringatan Hari Kesehatan Jiwa Nasional (HKJN) di Ruang Antasari, Kantor Wali Kota setempat. “Dukungan dari keluarga” Kegiatan ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan jiwa sekaligus menghapus stigma terhadap orang dengan gangguan kesehatan jiwa.
Wakil Wali Kota Jakarta Selatan, Firmanuddin Ibrahim mengatakan, kesehatan jiwa perlu mendapat perhatian yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Menurutnya, pembangunan manusia harus dimulai dari jiwa, sebagaimana tercermin dalam lirik lagu kebangsaan Indonesia Raya. “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Jiwanya dulu yang dibangun. Kalau kita mau sehat dan selamat, ada empat faktor utama, yaitu menunaikan kewajiban pada Tuhan, hidup sesuai norma dan aturan, mensyukuri apa yang ada, serta bersabar,” ujarnya, Selasa (27/10/26).
Dalam kesempatan tersebut, Firmanuddin menyoroti persoalan kesehatan anak di Jakarta Selatan, salah satunya terkait kasus tengkes atau stunting. “Penanganan stunting di Jakarta Selatan bukan selalu berkaitan dengan kemiskinan, melainkan juga dapat karena kesibukan orang tua yang bekerja sehingga menyerahkan pengasuhan anak sepenuhnya kepada pengasuh,” terangnya.
Firmanuddin mengapresiasi seluruh pihak yang sudah mendukung rangkaian kegiatan peringatan HKJN. Apresiasi tersebut disampaikan kepada jajaran kesehatan, kecamatan dan kelurahan, narasumber, mitra tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR), serta guru pendamping.
Ia berharap, edukasi yang diberikan para narasumber dapat menambah pengetahuan peserta dan diterapkan dalam pelayanan kepada masyarakat. Sehingga, berbagai persoalan kesehatan, termasuk masalah kesehatan jiwa, dapat ditangani secara lebih optimal di Jakarta Selatan. “Peserta diharapkan dapat menyerap ilmu dan mengaktualisasikannya dalam pelayanan kepada masyarakat agar dapat menekan angka permasalahan kejiwaan dan kesehatan di Jakarta Selatan,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan, Debi Intan Suri memaparkan, kegiatan tersebut diselenggarakan melalui kolaborasi dengan RSUD Pasar Minggu dan RSUD Kebayoran Baru. “Rangkaian kegiatan diisi dengan edukasi dan sosialisasi kesehatan jiwa yang melibatkan berbagai unsur lintas sektor, mulai dari guru, siswa, kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), hingga elemen masyarakat lainnya,” bebernya.
Debi menambahkan, edukasi kesehatan jiwa penting dilakukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat sekaligus mengurangi stigma negatif terhadap orang yang mengalami gangguan kesehatan jiwa. Mereka perlu mendapatkan kesempatan untuk didengarkan, diakui, dan diterima tanpa diskriminasi.
Kesehatan jiwa ini perlu kita angkat karena seperti yang disampaikan sebelumnya, di dalam raga yang sehat ada jiwa yang sehat. “Kita berharap stigma sakit jiwa yang selama ini ada bisa kita minimalisir dan hapus karena mereka butuh didengarkan, diakui, dan keunikannya bisa diterima,” ucapnya.
Ia menuturkan, salah satu tantangan terbesar dalam penanganan kesehatan jiwa saat ini adalah ketakutan masyarakat terhadap stigma gangguan jiwa. Untuk itu, kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif serta mendukung akses pelayanan kesehatan jiwa.
Ia menekankan pentingnya peran keluarga dan lingkungan sekitar dalam mendukung proses pemulihan orang dengan gangguan kesehatan jiwa. Melalui penanganan medis yang tepat dan dukungan sosial yang memadai, mereka tetap memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan secara produktif dan bermakna.
“Harapan ke depan, stigma terhadap kesehatan jiwa bisa dihilangkan. Mereka butuh didengar, diakui, dan sebenarnya butuh diobati. Mereka bisa hidup normal selama penanganan kasus jiwa ini bisa kita atasi bersama-sama melalui pengobatan yang tepat, pengakuan dari lingkungan sekitar, serta dukungan dari keluarga,” tandasnya. create by Rahmat Handoko




