MII – Bogor – Kalau akhir-akhir ini jalanan Bogor mulai sering dihiasi janur kuning, itu tandanya satu hal yaitu musim hajatan sudah datang. Fenomena tahunan ini mulai terlihat di berbagai sudut wilayah Bogor. Dari gang permukiman, pinggir jalan utama, sampai akses masuk kampung, janur kuning perlahan bermunculan sebagai penanda adanya pesta pernikahan. Bagi sebagian orang, pemandangan ini membawa suasana bahagia.

Tapi bagi sebagian lainnya, terutama yang undangannya mulai menumpuk, janur kuning juga bisa berarti satu hal lain: dompet harus mulai siap mental. Ramainya musim hajatan ini ikut jadi bahan obrolan warganet. Banyak netizen yang mengaku mulai kewalahan karena undangan pernikahan datang hampir setiap pekan. “Banyak bener yang ngundang, ampe kering dompet,” ungkap seorang netizen.

Komentar itu menggambarkan keresahan yang cukup relate bagi banyak warga. Sebab, datang ke kondangan bukan hanya soal hadir dan memberi doa, tetapi juga menyiapkan amplop, ongkos perjalanan, pakaian, hingga waktu luang. Apalagi jika undangan datang berdekatan, pengeluaran bisa terasa lebih berat.

Netizen lain bahkan ikut menimpali dengan nada bercanda. “Minggu depan siapin Bodrex atau Paramex ya orang Bogor biar gak puyeng bagi-bagi duitnya,” tulis netizen tersebut. Candaan itu membuat fenomena janur kuning semakin ramai dibahas, karena dianggap mewakili isi hati banyak orang saat musim hajatan tiba.

Di Bogor, musim hajatan memang sering terasa meriah. Pesta pernikahan tidak hanya menjadi acara keluarga, tetapi juga ruang berkumpul warga, tetangga, teman lama, hingga kerabat jauh. Janur kuning yang terpasang di pinggir jalan pun menjadi simbol yang sangat familiar. Begitu melihat janur, warga biasanya langsung paham bahwa di sekitar lokasi sedang ada acara pernikahan.

Namun di balik suasana bahagia itu, ada juga realitas kecil yang sering dirasakan masyarakat: semakin banyak undangan, semakin besar pula pengeluaran. Fenomena ini membuat musim hajatan terasa seperti “ujian dompet” tersendiri bagi sebagian warga. Meski begitu, banyak netizen tetap menanggapi fenomena ini dengan santai dan penuh humor.Bagi warga Bogor, ramainya janur kuning bukan sekadar tanda musim nikah. Ini juga bagian dari kehidupan sosial yang selalu punya cerita.

Ada yang bahagia karena sahabatnya menikah., Ada yang sibuk mengatur jadwal kondangan., Ada juga yang mulai menghitung isi dompet sebelum akhir pekan tiba. Yang jelas, musim janur kuning di Bogor sudah mulai terasa. Jadi, kalau dalam beberapa pekan ke depan undangan makin banyak masuk, jangan kaget. Bukan cuma kalender yang penuh, dompet juga ikut kerja lembur. create by Guanawan Suhnedar