MII – Surabaya – Ancaman kebakaran di kawasan permukiman padat penduduk Kota Surabaya kian mengkhawatirkan. Hubungan arus pendek atau korsleting listrik masih menjadi momok utama yang memicu rentetan peristiwa kebakaran sejak awal tahun ini. Berdasarkan data dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan ( DPKP ) Kota Surabaya, sepanjang Januari hingga April 2026 saja, korps baju biru telah menangani sedikitnya 17 insiden kebakaran. Jika menengok ke belakang, grafik ancaman kebakaran memang fluktuatif namun tetap tinggi. Sepanjang tahun 2025, DPKP mencatat total penanganan kebakaran mencapai 271 kasus.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 126 objek yang terbakar merupakan bangunan, sementara 129 kasus menyasar non-bangunan. Senada dengan pola tahun ini, rentetan bencana tahun lalu itu pun didominasi oleh korsleting listrik yang menyumbang hingga 71 kasus. Kepala Bidang Pemadaman dan Penyelamatan DPKP Surabaya, Moch. Rokhim, membenarkan bahwa faktor instalasi listrik yang buruk atau kelebihan muatan masih menjadi pemicu paling dominan di lapangan, terutama saat cuaca ekstrem melanda kota.

“Iya mas, korsleting listrik masih dominan, terutama saat musim penghujan,” ujar Moch Rokhim saat dikonfirmasi Memorandum. Rokhim menekankan bahwa pihak dinas sebenarnya tidak pernah bosan melempar peringatan ke tengah masyarakat. Namun, faktor kelalaian di tingkat rumah tangga masih kerap ditemukan. “Untuk imbauan juga sudah seringkali disampaikan antara lain tidak menumpuk steker listrik di luar batas kemampuan, mematikan peralatan listrik saat meninggalkan rumah, dan lain-lain,” imbuhnya.

Menjinakkan api di kota metropolitan dengan dinamika sosial yang tinggi seperti Surabaya membawa tantangan berat bagi para petugas pemadam. Rokhim membeberkan beberapa kendala klasik yang kerap menguji waktu respons ( response time ) personelnya di lapangan. Karakteristik pemukiman Surabaya yang sarat dengan gang-gang sempit menjadi ujian pertama saat armada besar mencoba mendekati titik api. Selain kendala geografis, kesadaran warga untuk melapor cepat juga menjadi kunci yang sering kali terlewat.

Faktor krusial lainnya adalah golden time penanganan awal. Rokhim menyayangkan masih adanya jeda waktu yang lama antara awal munculnya api dengan laporan yang masuk ke Command Center 112. Seringkali warga mencoba memadamkan api dengan alat seadanya terlebih dahulu, dan baru menghubungi petugas saat api sudah membesar dan tidak terkendali. “Untuk kendala ya ada beberapa, meliputi kejadian kebakaran di gang sempit, serta keterlambatan laporan masuk ke Command Center 112,” ungkap Rokhim. Meski dihantam berbagai kendala tersebut, ia memastikan jajarannya tetap berupaya optimal. “Tetapi sampai saat ini ( situasi di lapangan ) masih terkendali,” tegasnya.

Sadar bahwa penanganan di hilir tidak akan pernah cukup untuk menciptakan zero fire accident, DPKP Surabaya kini gencar menggenjot strategi preventif. Mitigasi kebakaran dilakukan secara struktural, menyasar berbagai lapisan usia dan status sosial masyarakat. Di tingkat usia dini dan lingkungan sekolah, DPKP memaksimalkan program edukasi interaktif. “Upaya-upaya pencegahan meliputi sosialisasi kepada masyarakat, siswa sekolah, juga kepada anak-anak TK dan PAUD melalui Wisdamcil ( Wisata Pemadam Cilik ),” urai Rokhim.

Tidak hanya itu, pertahanan di tingkat akar rumput diperkuat dengan pembentukan Kader Pemadam Kebakaran yang melibatkan warga langsung melalui program Madagaskar (Masyarakat Pemadam Kebakaran). Di sektor formal, DPKP juga memperketat pengawasan melalui inspeksi rutin pada sistem proteksi kebakaran di gedung-gedung pemerintahan maupun swasta.

Sebuah insiden tragis baru-baru ini merenggut nyawa seorang lanjut usia di tengah kekhusyukan malam.

Peristiwa memilukan tersebut terjadi pada Minggu (31/5/2026) dini hari WIB. Sebuah rumah toko (ruko) dua lantai yang difungsikan sebagai gudang sepeda anak di Jalan Sidoyoso Wetan, Gang IV No.51-C, Kecamatan Simokerto, Surabaya, ludes dilalap api.

Dalam musibah subuh tersebut, seorang wanita lansia dilaporkan meninggal dunia akibat terjebak di dalam bangunan yang membara. create by Abdul Ghofar