MII – Gresik – Pemerintah Kabupaten ( Pemkab ) Gressik mempercepat pemenuhan akses air bersih dan sanitasi aman bagi warga. Hingga saat ini, capaian target rumah dengan sanitasi aman di Gresik masih sangat jauh dari target RPJMD 2025-2029. Hal tersebut disampaikan oleh Sekdakab Gresik Achmad Washil Miftahul Rachman, saat membuka forum Kabupaten Gresik Menuju Pemenuhan Akses Air Bersih dan Sanitasi Layak Berkelanjutan Bagi Masyarakat, Kamis 25 Juni 2026.

Washil mengatakan, berbagai langkah telah disiapkan untuk mempercepat pemenuhan air bersih dan sanitasi aman. Layanan dasar itu salah satunya diwujudkan lewat pembangunan dua tandon air berkapasitas besar di Desa Sembayat dan Manyar. Infrastruktur itu, nantinya akan mendukung distribusi air dari Bendung Gerak Sembayat ( BGS ) ke sejumlah desa yang masih membutuhkan akses air bersih. “Anggarannya sudah kita susun. Mudah-mudahan proses pemenuhan akses air bersih ini berjalan lancar dan segera berdampak bagi desa-desa yang akan dialiri air dari Bendung Gerak Sembayat,” ujar Washil.

Selain akses air bersih, Washil menyebut, bahwa capaian sanitasi aman di Gresik masih berada pada angka 2,69 persen atau sekitar 11.787 rumah. Sangat jauh dari target RPJMD 2025–2029 yang berada di 23,41 persen. “Artinya kita masih memiliki deviasi atau kesenjangan sekitar 20,72 persen. Ini angka yang sangat besar, sehingga proses pemenuhan sanitasi aman harus kita maksimalkan,” jelasnya.

Untuk mempercepat pencapaian target itu, pihaknya mendorong Kecamatan Manyar dan Kecamatan Bungah menjadi wilayah percontohan (pilot project) dalam penerapan sanitasi aman di Gresik. Menurutnya, terdapat fenomena “sanitasi tersamar” di kawasan perkotaan dengan permukiman padat. Misalnya, banyak rumah yang terlihat memiliki fasilitas sanitasi layak, namun belum dilengkapi septic tank yang memenuhi standar. “Bahkan masih membuang limbah langsung ke saluran terbuka,” tuturnya.

Kondisi itu tentu berpotensi mencemari air tanah dengan bakteri E coli. Terutama karena jarak antara sumur warga dan resapan tangki septik kerap berada di bawah batas aman 10 meter. Oleh karenanya, Pemkab Gresik berencana mengintegrasikan pembangunan sanitasi aman ke dalam program rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni ( RTLH ).

Pada tahun 2026 hingga 2027, total 647 unit rumah warga desil 1 dan 2 ditargetkan direhabilitasi. Dilengkapi sanitasi aman berupa bio septic tank. Selain itu, melalui UPT Pengelolaan Limbah Cair Domestik ( PLCD ), Pemkab Gresik juga akan mengoptimalkan program Layanan Lumpur Tinja Terjadwal ( L2T2 ) serta aplikasi GO – PLONG. “Ini untuk memastikan pengelolaan limbah domestik dilakukan secara berkala setiap dua hingga tiga tahun,” tandasnya. create by Basuki Rahmad