MII – Bogor – Koalisi Mahasiswa Peduli IPB telah berhasil menyampaikan keprihatinan mendalam dan menuntut sikap tegas serta keadilan tanpa pandang bulu dari Kampus IPB Dramaga kepada Rektor IPB, Alim Setiawan, atas maraknya kasus kekerasan, pelecehan seksual, serta ancaman terhadap korban yang tengah menjadi sorotan publik.

Bukti – bukti yang telah viral di media X IPBfess (@ipb_menfess) menunjukkan adanya laporan berdasarkan chat pribadi serta grup chat mahasiswa TMB-59 yang secara sistematis melakukan pelecehan seksual, objektifikasi, dan seksualitas terhadap sesama mahasiswa serta perpeloncoan kepada mahasiswa junior yang mengarah kepada kekerasan seksual. Bukan hanya satu korban, puluhan mahasiswa perempuan merasa kebebasan dan harga dirinya terancam akibat perilaku tersebut.

Kasus pelecehan seksual di IPB bukanlah hal baru. IPB sendiri pada tahun ini, telah mengalami 2 kasus besar pelecehan seksual yang menjerat mahasiswanya. Adapun temuan dari pola yang sama persis dengan kasus grup chat viral di Universitas Indonesia (UI) yang telah berlangsung sejak lama. Namun, di IPB, Satgas yang kerap diagung-agungkan Rektor ternyata gagal menindak secara tegas. Rabu (18/4/26)

Beberapa kasus hanya berakhir dengan sanksi ringan semacam “membersihkan musola”, tanpa memberikan efek jera maupun perlindungan yang memadai bagi korban. Berbeda jauh dengan respons cepat dan tanggap yang ditunjukkan Rektor serta pimpinan akademik Universitas Indonesia ( UI ).

Di UI, kasus serupa langsung ditangani dengan serius, korban dilindungi, pelaku diproses secara transparan, dan aksi konkret dilakukan untuk mencegah terulangnya kekerasan serta pelecehan seksual di lingkungan kampus.

Hal ini menjadi teladan yang kini justru kontras dengan sikap lambat dan defensif pimpinan IPB. Hingga saat ini baik pimpinan fakultas, dan rektorat masih bisu seribu bahasa tentang kasus KS yang terulang kembali di IPB.

Mahasiswa yang tergabung dalam Koalisi Mahasiswa Peduli IPB menggelar tuntutan kepada IPB, serta pimpinan IPB untuk bersuara atas kasus yang mengancam keselamatan dan kehormatan diri tersebut. Koalisi Mahasiswa Peduli IPB menyesalkan keras bahwa rektor dan pimpinan akademik baru bereaksi ketika nama baik pimpinan, organisasi, atau fakultas terancam.

“Selama ini Satgas hanya menjadi alat pencitraan. Ide usang yang hanya di-branding ulang tanpa substansi. Mahasiswa melihat Satgas tidak cekatan, tidak transparan, dan cenderung melindungi pelaku demi menjaga ‘nama baik’ departemen,” tegas juru bicara Koalisi.

Pada rumor yang beredar di kalangan mahasiswa juga semakin memperburuk situas, dimana terdapat anak guru besar IPB yang diduga melakukan hal serupa, namun hingga kini masih berkeliaran bebas tanpa rasa bersalah, meninggalkan korban dalam ketakutan dan ketidakberdayaan. Dalam aksinya, gabungan Koalisi Mahasiswa Peduli IPB menuntut: create by Gunawan Suhendar