MII – Sukabumi – Di tengah dunia modern yang masih terus berjibaku menghadapi ancaman krisis pangan, kerusakan lingkungan, hingga lemahnya ketahanan sosial masyarakat, sebuah fakta mengejutkan justru ditemukan di kampung adat yang selama ini dianggap sederhana dan tertinggal.


Beberapa anggota Tim Inti Majelis Adat Sunda Jawa Barat (MASDA Jabar) yang terdiri dari Prof. Dany Hilman, Bunda Rr Okky JJ, Ki Pamanah Rasa Abah Oman R beserta tim, melakukan kunjungan khusus ke Kampung Adat Gelar Alam di wilayah Sukabumi-Cianjur dan bertemu langsung dengan tokoh adat setempat seperti Abah Ugi dan Abah Yoyo.


Kunjungan tersebut bukan sekadar silaturahmi budaya. Tim MASDA Jabar datang untuk menelusuri lebih dalam rahasia ketahanan pangan, sistem lingkungan hidup, serta teknologi buhun Sunda yang hingga kini masih bertahan dan terbukti efektif menjaga keberlangsungan hidup masyarakat adat.


Salah satu fokus utama penelitian mereka adalah keberadaan “Leuit Salawe” — sistem gudang penyimpanan padi dan beras tradisional Sunda yang selama ratusan tahun menjadi benteng ketahanan pangan masyarakat adat.


Leuit bukan sekadar lumbung padi biasa. Di Kampung Adat Gelar Alam dikenal beberapa jenis leuit seperti Leuit Salawe, Leuit Warga, Leuit Rurukan, hingga Leuit Jimat. Semuanya memiliki fungsi strategis sebagai cadangan logistik pangan masyarakat dalam jangka panjang.


Yang mengejutkan, teknologi penyimpanan tradisional tersebut ternyata mampu menjaga kualitas beras tetap utuh hingga belasan bahkan puluhan tahun tanpa rusak maupun diserang hama.


“Saat kami berkunjung ke Cipta Gelar, kami disuguhi beras yang sudah disimpan selama 15 tahun. Tapi kondisinya masih bersih, segar, dan utuh tanpa dimakan kutu. Ini luar biasa,” ungkap Bunda Okky.


Menurutnya, konsep Leuit Salawe menunjukkan bahwa masyarakat adat Sunda sesungguhnya telah memiliki teknologi ketahanan pangan mandiri jauh sebelum konsep modern diperkenalkan.
“Cadangan pangan mereka bahkan disiapkan untuk mampu bertahan hingga 25 tahun ke depan,” tambahnya.


Temuan ini menjadi ironi tersendiri jika dibandingkan dengan kondisi gudang penyimpanan beras modern saat ini. Tidak sedikit ditemukan kasus beras bantuan atau cadangan pemerintah yang rusak, berkutu, bahkan membusuk meski baru disimpan beberapa tahun.
MASDA Jabar menilai, teknologi penyimpanan pangan tradisional masyarakat adat justru jauh lebih unggul dalam aspek daya tahan, keberlanjutan, dan keamanan pangan.
Tak hanya soal pangan, Prof. Dany Hilman mengungkapkan bahwa kampung adat juga menyimpan berbagai teknologi masa lalu yang sangat maju dan ramah lingkungan.


“Banyak teknologi leluhur yang ternyata tidak kalah bahkan bisa lebih unggul dari teknologi modern, mulai dari pupuk organik alami, sistem pertanian anti hama, pondasi rumah tahan gempa, hingga pengelolaan sumber daya alam tanpa merusak lingkungan,” jelasnya.


Sementara itu, Ki Pamanah Rasa Abah Oman R menyoroti sistem keamanan sosial masyarakat adat yang dikenal dengan konsep “Jaga Baya”.
Menurutnya, sistem sederhana berbasis kebersamaan dan pengawasan sosial itu terbukti mampu menciptakan lingkungan dengan angka kriminalitas nyaris nol.


“Konsep mereka sederhana, tapi harmonis. Masyarakat hidup aman, sehat, saling menjaga, dan tetap mampu melestarikan alam,” ujarnya.
Ketua Umum MASDA Jabar, Anton Charliyan, menegaskan bahwa masyarakat adat sesungguhnya menyimpan mutiara peradaban yang selama ini kurang mendapat perhatian.


“Kampung adat yang sering dianggap tertinggal ternyata menyimpan rahasia besar tentang bagaimana manusia bisa hidup mandiri, sehat, aman, dan mampu bertahan di tengah derasnya arus globalisasi,” tegasnya.


Ia bahkan menyoroti fakta bahwa selama pandemi COVID-19 melanda dunia, hampir tidak terdengar adanya dampak besar yang menimpa komunitas masyarakat adat.


“Jarang sekali terdengar masyarakat adat mengalami kelaparan, stunting, atau krisis kesehatan serius. Ini harus menjadi bahan renungan bersama. Jangan-jangan kita memang harus banyak belajar dari kampung adat,” katanya.


Bagi MASDA Jabar, kearifan lokal bukan sekadar warisan budaya, melainkan solusi nyata menghadapi ancaman krisis pangan, kerusakan lingkungan, hingga degradasi sosial yang kini melanda masyarakat modern.


Di balik kesederhanaannya, kampung adat ternyata menyimpan pelajaran besar tentang kehidupan: bagaimana menjaga alam, menjaga pangan, menjaga harmoni sosial, dan menjaga masa depan tanpa harus kehilangan akar budaya.


Dan mungkin, di tengah hiruk pikuk modernisasi hari ini, rahasia bertahan hidup yang sesungguhnya justru masih tersimpan rapat di balik dinding-dinding Leuit Salawe milik masyarakat adat Sunda. create by Dayan Sihombing