MII – Gresik – Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani bersama Wakil Menteri Transmigrasi RI Viva Yoga Mauladi melepas ekspor rajungan ke Amerika Serikat dari CV Kudatama Mas yang terletak di Kawasan Industri Gresik ( KIG ), Pelepasan ekspor tersebut dilakukan untuk memperkuat hilirisasi produk unggulan kawasan transmigrasi sekaligus menegaskan peran Gresik sebagai simpul industri pengolahan komoditas perikanan berorientasi ekspor. Ekspor rajungan itu merupakan hasil kolaborasi Kementerian Transmigrasi, Pemerintah Kabupaten Gresik, Aruna Indonesia, dan CV Kudatama Mas.

Bahan baku rajungan dipasok dari kawasan transmigrasi di Sorong, Papua, Maluku, Maluku Utara, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, serta kawasan pesisir Gresik dan Lamongan. Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mengatakan seluruh hasil tangkapan tersebut diolah di Gresik sebelum diberangkatkan ke pasar Amerika Serikat. Menurutnya, posisi Gresik sebagai kawasan industri menjadi modal penting untuk menghubungkan potensi sumber daya dari berbagai daerah dengan pasar ekspor. “Hari ini kita melepas satu kontainer. Mudah-mudahan ke depan jumlahnya terus meningkat menjadi lima kontainer atau bahkan lebih,” ujar Fandi Akhmad Yani, Rabu 1 Juli 2026.

Ia menambahkan kerja sama tersebut juga membuka peluang hilirisasi bagi komoditas unggulan lain dari kawasan transmigrasi, seperti kakao dan kopra, yang dapat diolah di Gresik. “Kami berharap dukungan Kementerian Transmigrasi terus diperkuat agar semakin banyak produk unggulan kawasan transmigrasi yang memiliki nilai tambah melalui industri di Gresik,” tuturnya.

Wakil Menteri Transmigrasi RI Viva Yoga Mauladi mengatakan rajungan merupakan salah satu produk unggulan kawasan transmigrasi dengan bahan baku yang berasal dari Sorong, Maluku, Maluku Utara, Pasangkayu, serta kawasan pesisir Gresik dan Lamongan. Menurutnya, arah baru pembangunan transmigrasi saat ini berfokus pada peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan potensi ekonomi lokal dan hilirisasi produk unggulan. “Setiap kawasan transmigrasi memiliki produk unggulan yang berbeda. Karena itu pengembangannya juga harus spesifik, termasuk melalui hilirisasi agar memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat,” katanya.

Pengolahan rajungan dilakukan di CV Kudatama Mas yang telah memenuhi standar internasional. Menurut Viva Yoga Mauladi, hampir seluruh proses produksi masih dilakukan secara manual sehingga mampu menyerap banyak tenaga kerja. Ia menyebut permintaan rajungan dari Amerika Serikat masih sangat tinggi. Saat ini ekspor dilakukan secara rutin dua kali setiap bulan dengan volume sekitar 16 ton per kontainer dan nilai mencapai sekitar Rp 14 miliar hingga Rp 15 miliar. “Industri ini bukan hanya menghasilkan devisa, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan yang luas. Kami akan terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak agar semakin banyak nelayan di kawasan transmigrasi yang memperoleh manfaat dari rantai nilai ekspor ini,” tandasnya. create by Abdul Ghofar