MII – Surabaya – Perum Jasa Tirta ( PJT ) I masih melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel air Kali Surabaya menyusul penurunan kualitas air yang ditandai munculnya busa putih di permukaan sungai. Hingga Senin 7 September 2026 siang, hasil uji laboratorium tersebut belum selesai dan masih dalam proses pemeriksaan di laboratorium PJT I.
Kepala Sub Divisi Pengelolaan Sumber Daya Air ( SDA) Wilayah Sungai (WS) Brantas 3 Perum Jasa Tirta I, Agung Wicaksono, membenarkan bahwa pihaknya telah melakukan pengujian terhadap sampel air. “Ada ( uji laboratorium ),” kata Agung saat dikonfirmasi Memorandum mengenai langkah PJT I untuk mengetahui kondisi kualitas air Kali Surabaya.
Namun, ketika ditanya mengenai hasil pemeriksaan tersebut, Agung menyebut hasilnya belum dapat disampaikan karena masih dalam proses analisis. “Hasilnya masih diperiksa ini, di lab kami. Masih pemeriksaan,” ujarnya.
PJT I sebelumnya melakukan pemantauan dan pengambilan sampel air di sejumlah titik setelah muncul indikasi penurunan kualitas air Kali Surabaya. Pengambilan sampel dilakukan untuk mengetahui kondisi kualitas air sekaligus menelusuri perkembangan pencemaran di sepanjang aliran sungai. Sedikitnya terdapat lima titik yang menjadi lokasi pemantauan dan pengambilan sampel. Titik tersebut meliputi hulu Kali Tengah, muara Kali Tengah, intake Karangpilang, Gunungsari, hingga intake Ngagel.
Langkah tersebut dilakukan karena Kali Surabaya menjadi salah satu sumber air baku yang dimanfaatkan untuk kebutuhan air bersih masyarakat Surabaya. Karena itu, kondisi kualitas air di sepanjang aliran menjadi perhatian, terutama setelah ditemukan perubahan fisik berupa munculnya busa putih.
Berdasarkan informasi awal yang dihimpun dari lapangan dan pemberitaan terkait kejadian tersebut, penurunan kualitas air Kali Surabaya diduga berkaitan dengan kegiatan pemadaman kebakaran di salah satu gudang penyimpanan bahan baku di kawasan industri Driyorejo pada Jumat 4 September 2026.
Dalam proses pemadaman kebakaran tersebut, petugas diketahui menggunakan foam atau bahan pemadam berbusa. Lokasi kejadian berada di sekitar aliran Kali Tengah yang kemudian bermuara ke Kali Surabaya. Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang tengah dipantau untuk mengetahui apakah terdapat keterkaitan antara kegiatan pemadaman kebakaran dengan perubahan kualitas air di Kali Surabaya. Namun, dugaan tersebut belum dapat disebut sebagai penyebab pasti sebelum hasil pemeriksaan laboratorium selesai. PJT I masih melakukan analisis terhadap sampel yang telah diambil dari sejumlah titik pemantauan.
Pengujian laboratorium menjadi penting untuk mengetahui kandungan dalam air serta memastikan kondisi kualitas air berdasarkan parameter yang diperiksa. Hasil pemeriksaan juga diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai sumber maupun tingkat penurunan kualitas air yang terjadi. Sembari menunggu hasil laboratorium, PJT I telah melakukan sejumlah langkah operasional untuk membantu mempercepat pemulihan kondisi Kali Surabaya.
Salah satunya dengan menambah debit air dari Bendung Mlirip. Debit yang sebelumnya berada di kisaran 20 meter kubik per detik ditingkatkan menjadi sekitar 25 meter kubik per detik sejak Sabtu 5 September 2026 pukul 21.00 WIB. Penambahan debit tersebut dilakukan sebagai upaya penggelontoran. Dengan bertambahnya aliran air, material yang memengaruhi kualitas air diharapkan dapat terdorong dan proses pemulihan kondisi sungai dapat berlangsung lebih cepat.
Selain itu, PJT I juga melakukan pengaturan tambahan pasokan air dari bagian hulu WS Brantas melalui sistem Waduk Sutami. Pengaturan tata air tersebut dilakukan untuk menjaga kecukupan pasokan air sekaligus mendukung proses pemulihan kualitas air Kali Surabaya. Agung mengatakan pemantauan kondisi sungai masih dilakukan secara intensif. PJT I juga terus melakukan pengaturan tata air sebagai bagian dari penanganan terhadap penurunan kualitas air tersebut. “Sejak menerima informasi adanya penurunan kualitas air di Kali Surabaya, kami langsung sigap melakukan sejumlah langkah operasional sebagai bagian dari upaya pengelolaan sumber daya air,” kata Agung. Debit dari Mlirip ditingkatkan dari 20 m³/detik menjadi 25 m³/detik untuk membantu penggelontoran. Di saat yang sama, tim kami melakukan pengambilan sampel dan pemantauan kualitas air pada lima titik,” lanjutnya.
Selain pengaturan debit, PJT I juga melakukan pengendalian aliran di kawasan Wonokromo. Pintu Air (PA) Wonokromo ditutup sementara untuk mengendalikan aliran yang terdampak agar tidak masuk ke Kali Mas.Dengan pengaturan tersebut, aliran diarahkan melalui Kali Wonokromo. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pengendalian tata air selama proses pemantauan dan pemulihan kualitas air berlangsung. PJT I menyatakan akan terus melakukan koordinasi dengan para pemangku kepentingan terkait. Pengaturan tata air juga akan dioptimalkan untuk mendukung percepatan pemulihan kualitas air Kali Surabaya. create by Abdul Ghofar




