MII – Bogor – Bagi masyarakat Kota Bogor, angkutan kota atau angkot bukan sekadar kendaraan umum. Selama bertahun-tahun, angkot menemani perjalanan sehari-hari warga: berangkat sekolah, bekerja, berbelanja, hingga bepergian ke berbagai sudut kota. Namun, pernahkah Anda membayangkan bagaimana jadinya jika besok seluruh angkot di Kota Bogor berhenti beroperasi?

Pertanyaan itu kami bawa langsung ke warga di Alun-Alun Kota Bogor dan Pasar Kebon Kembang. Sebelum sampai ke jawaban mereka, kita lihat dulu bagaimana angkot bisa begitu lekat dengan kehidupan Kota Hujan.

Dari Delman, Bemo, hingga Oplet
Sebelum angkot berkembang, warga Bogor sudah mengenal berbagai moda transportasi, mulai dari delman, bemo, hingga oplet. Kendaraan-kendaraan itulah yang membantu masyarakat berpindah dari satu tempat ke tempat lain pada masanya.

Angkot mulai hadir di Bogor sekitar 1978 dan menggantikan sebagian peran bemo dan oplet. Jumlahnya terus bertambah hingga Bogor dikenal dengan julukan Kota Seribu Angkot. Pada 1986, sistem trayek mulai menggunakan nomor sehingga angkot makin mudah dikenali lewat nomor dan rute yang dilayaninya. Sejak itu, angkot menjadi pemandangan akrab di jalanan Bogor

Bagi masyarakat Kota Bogor, angkutan kota atau angkot bukan sekadar kendaraan umum. Selama bertahun-tahun, angkot menemani perjalanan sehari-hari warga: berangkat sekolah, bekerja, berbelanja, hingga bepergian ke berbagai sudut kota. Namun, pernahkah Anda membayangkan bagaimana jadinya jika besok seluruh angkot di Kota Bogor berhenti beroperasi?

Pertanyaan itu kami bawa langsung ke warga di Alun-Alun Kota Bogor dan Pasar Kebon Kembang. Sebelum sampai ke jawaban mereka, kita lihat dulu bagaimana angkot bisa begitu lekat dengan kehidupan Kota Hujan.

Baca Juga
Penertiban Angkot di Kota Bogor Ditargetkan Bisa Selesai Sampai Akhir 2026, Sisa yang Tinggal 516 Unit
Dari Delman, Bemo, hingga Oplet
Sebelum angkot berkembang, warga Bogor sudah mengenal berbagai moda transportasi, mulai dari delman, bemo, hingga oplet. Kendaraan-kendaraan itulah yang membantu masyarakat berpindah dari satu tempat ke tempat lain pada masanya.

Angkot mulai hadir di Bogor sekitar 1978 dan menggantikan sebagian peran bemo dan oplet. Jumlahnya terus bertambah hingga Bogor dikenal dengan julukan Kota Seribu Angkot. Pada 1986, sistem trayek mulai menggunakan nomor sehingga angkot makin mudah dikenali lewat nomor dan rute yang dilayaninya. Sejak itu, angkot menjadi pemandangan akrab di jalanan Bogor.

Baca Juga
1.025 Angkot Tua di Kota Bogor Kena Beku Izin Trayek, Penertiban Ditargetkan Rampung November
Penataan Jalan, Bukan Penghentian
Perkembangan transportasi terus berjalan. Pemerintah Kota Bogor mendorong pembaruan angkutan umum, salah satunya lewat kehadiran Biskita Transpakuan. Di sisi lain, armada angkot juga ditata. Melalui Peraturan Wali Kota Bogor Nomor 11 Tahun 2026, operasional angkot yang berusia lebih dari 20 tahun dibatasi.

Perlu diluruskan, pertanyaan “bagaimana kalau besok angkot berhenti?” hanyalah skenario pengandaian, bukan kabar bahwa seluruh angkot akan dihentikan. Kebijakan pembatasan angkot tua pun berbeda dengan penghentian seluruh layanan angkot sekaligus. Tapi justru lewat pengandaian inilah kita bisa melihat betapa besar peran angkot bagi warga.

Pak Sukri, pedagang asongan di Alun-Alun Kota Bogor, menilai hal terpenting jika angkot berhenti beroperasi adalah pemerintah tetap menyediakan kendaraan bagi masyarakat.

Yang penting pemerintah menyediakan kendaraan demi kebijakan masyarakat.

Pandangan ini menunjukkan bahwa perubahan moda transportasi perlu disertai solusi yang benar-benar bisa dipakai warga. Tidak semua orang memiliki kendaraan pribadi, dan sebagian masih mengandalkan angkot untuk menjangkau tempat kerja, sekolah, pasar, hingga tujuan sehari-hari lainnya.

Biskita Transpakuan memang bisa menjadi pilihan bagi warga yang berada di sekitar koridor layanannya. Namun, setiap moda punya rute, titik pemberhentian, dan jam operasional yang berbeda. Artinya, tidak semua perjalanan otomatis terlayani jika angkot tiba-tiba tidak ada.

Di sisi lain, tidak semua orang melihat kemungkinan ini sebagai kabar buruk. Teh Afni, pedagang soto dan ayam bakar di Pasar Kebon Kembang, justru melihat sisi lain: lalu lintas yang mungkin jadi lebih lengang.

Alhamdulillah ya, jadi nggak macet lagi.

Harapan itu wajar bagi warga yang setiap hari berhadapan dengan kemacetan Bogor. Meski begitu, berhentinya angkot belum tentu serta-merta membuat jalanan lancar. Kondisi lalu lintas juga dipengaruhi jumlah kendaraan lain, perilaku pengguna jalan, dan pengaturan transportasi secara keseluruhan.

Lebih dari Sekadar Kendaraan
Dua pendapat ini menunjukkan bahwa angkot punya arti yang berbeda bagi setiap orang. Bagi penumpang, angkot adalah sarana mobilitas. Bagi pengemudi dan pemilik kendaraan, angkot berkaitan dengan mata pencaharian. Bagi sebagian warga lain, keberadaan angkot terkait dengan kondisi lalu lintas yang mereka hadapi setiap hari.

Karena itu, pembenahan transportasi membutuhkan keseimbangan antara kelancaran lalu lintas, ketersediaan kendaraan umum, dan keberlangsungan hidup masyarakat yang terdampak. Transportasi yang lebih baik bukan hanya tentang kendaraan yang lebih modern, tetapi tentang bagaimana semua warga tetap bisa bergerak dan beraktivitas dengan biaya dan waktu yang terjangkau.

Kalau besok semua angkot di Kota Bogor benar-benar berhenti beroperasi, Anda bakal naik apa untuk beraktivitas?. create by Gunawan Suhendar