MII – Surabaya – Proyek vital pelebaran ruas Jalan Raya Lidah Wetan di kawasan Lakarsantri, Surabaya Barat, kembali menunjukkan progres signifikan. Pemerintah Kota ( Pemkot ) Surabaya kini tengah fokus pada pembebasan persil dan pembongkaran bangunan yang telah dibebaskan, menandai dimulainya babak baru Proyek multiyears ini.

Langkah ini diambil sebagai upaya konkret mengurai simpul kemacetan yang kerap terjadi di akses utama penghubung wilayah Surabaya Barat menuju Gresik, pun sebaliknya. Pantauan Memorandum di lokasi menunjukkan kesibukan yang intens. Dua unit alat berat eskavator dikerahkan untuk merobohkan struktur bangunan, sementara puluhan truk sibuk mengangkut bongkahan puing.

Hamparan lahan bekas bangunan kini rata dengan tanah, membentang luas mulai dari area minimarket di Jalan Lidah Wetan hingga perumahan Lembah Harapan. Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga ( DSDABM ) Kota Surabaya, Syamsul Hariadi, menegaskan bahwa proyek ini merupakan inisiatif multiyears yang strategis.Melanjutkan pelebaran jalan sebelumnya yang telah terealisasikan sepanjang 500 meter.

“Proyek pelebaran jalan ini diharapkan dapat secara signifikan mengurangi kemacetan di wilayah Surabaya Barat, khususnya yang mengarah ke Gresik dan sebaliknya,” ujar Syamsul, kepada Memorandum.

Saat ini, fokus utama pemkot adalah penyelesaian pembebasan lahan sepanjang kurang lebih 1.000 meter, yang direncanakan akan dilanjutkan hingga Puskesmas Lidah Kulon. “Saat ini, fokus utama adalah menuntaskan pembebasan lahan di sepanjang jalur tersebut, ” jelasnya.

Mengenai target pembebasan, Syamsul memastikan proses masih terus berjalan. “Pembebasan masih jalan terus,” katanya singkat. Sementara itu, untuk pekerjaan fisik, DSDABM menargetkan proses lelang dapat dimulai pada Januari mendatang.

“Untuk pekerjaan fisik atau kontruksi jalan, rencananya bulan Januari sudah masuk lelang,” tegasnya. Di lokasi pembongkaran, Yusman Fahmi dari Bagian Pengadaan Tanah DSDABM Kota Surabaya memberikan detail teknis terkait pembongkaran yang sedang berlangsung.

Menurutnya, giat kali ini adalah lanjutan dari sisi barat yang sebelumnya terputus. “Pembongkaran persil yang telah dibebaskan dan menerima ganti rugi ini sebenarnya adalah lanjutan dari sisi barat,” jelas Yusman.

Salah satu persil besar yang dibongkar adalah milik PT. Awalnya, pihak perusahaan meminta waktu tiga minggu untuk melakukan pembongkaran sendiri. Namun, karena terkendala alat berat, akhirnya Pemkot yang mengambil alih.

“Sebenarnya persil milik PT ini meminta waktu tiga minggu untuk membongkar sendiri. Tetapi karena terkendala alat berat, akhirnya mereka meminta bantuan kami (Pemkot) untuk dibongkar,” jelas Yusman.

Pembongkaran kali ini mencakup panjang sekitar 300 meter, menyambung ruas jalan baru yang sebelumnya terputus hingga Perumahan Lembah Harapan Tidak hanya bangunan tempat usaha dan tempat tinggal, pembongkaran juga meliputi perobohan pohon-pohon di bahu jalan dan tembok-tembok pembatas.

“Saat ini fokus kita adalah pembebasan lahan dan pembongkaran. Sementara untuk pengerjaan fisik ada di bidang lain,” tambahnya. Di tengah ambisi pembangunan infrastruktur ini, muncul keresahan warga setempat yang menggantungkan hidup di pinggir jalan tersebut.

Nur Hasan, seorang penjual nasi goreng di kawasan Lidah Wetan, mengaku was was dan resah dengan masa depannya pasca – pelebaran jalan. “Jujur waswas. Biasanya jualan mulai sore sampai malam, kalau jalan dilebarkan saya tidak bisa berjualan lagi,” keluh Nur Hasan ditemui di lapaknya. Meski menyadari bahwa ia berjualan bukan di atas lahan miliknya, Nur Hasan berharap ada kebijakan humanis dari Pemkot Surabaya. create by Basuki Rahmad